
Salatiga, fteologi.uksw.edu — Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar ibadah syukur dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7 Tim Ibadah Fakultas Teologi, yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2025. Perayaan ini mengangkat tema “Togetherness to Blessing”, sebagai simbol persatuan dan ungkapan syukur atas perjalanan panjang pelayanan spiritualitas di lingkungan Fakultas Teologi.
Kepala Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Kealumnian Fakultas Teologi UKSW, Pdt. Gunawan Yuli Agung Suprabowo, D.Th, menjelaskan bahwa tim ibadah ini pertama kali dibentuk pada tahun 2018 dan terus diperbaharui setiap tahun. Tujuannya untuk melayani pembinaan spiritual mahasiswa melalui ibadah rutin mingguan yang dilaksanakan setiap Kamis atau Jumat.
“Tim ibadah dibentuk setiap tahun sebagai bagian dari pelayanan pembinaan spiritual mahasiswa. Selama tujuh tahun, tim ini sudah banyak berkontribusi dalam memperkuat kehidupan rohani di fakultas. Karena itu, HUT kali ini kami rayakan sebagai bentuk apresiasi dan ucapan syukur,” paparnya, Selasa (21/10/2025).
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perayaan HUT kali ini dikemas dalam bentuk ibadah syukur “Unduh-Unduh”, sebuah tradisi gerejawi dan budaya lokal Jawa yang sarat makna teologis. “Unduh-unduh” secara harfiah berarti “memanen” — simbol rasa syukur kepada Tuhan atas berkat dan hasil kerja keras selama satu tahun.
“Biasanya perayaan unduh-unduh dilakukan di bulan Mei. Namun, kali ini kami rayakan di bulan Oktober untuk memperingati ulang tahun tim ibadah. Melalui unduh-unduh, kami ingin mengapresiasi karya dan talenta anggota tim, serta menegaskan makna kebersamaan dalam keberagaman,” jelas Pdt. Gunawan.
Ibadah syukur ini diikuti oleh 18 perwalian mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan (tendik) Fakultas Teologi. Setiap perwalian membawa makanan dan hasil bumi sebagai ungkapan syukur dalam bentuk gunungan, yang kemudian dinikmati bersama dalam suasana penuh kehangatan.
“Campus Ministry bersama seluruh civitas akademika membawa makanan dan hasil bumi. Gunungan itu menjadi simbol syukur kepada Tuhan, lalu kami makan bersama sebagai bentuk kebersamaan dan solidaritas,” tambahnya.
Perayaan “Unduh-Unduh” juga menjadi ruang ekspresi kreatif bagi mahasiswa. Talenta musik, seni, dan liturgi dikembangkan untuk merancang ibadah yang kontekstual dan kreatif, dengan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dan isu budaya kontemporer.
“Dalam ibadah fakultas, kami berupaya memanfaatkan nilai-nilai budaya lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran spiritual. Nilai-nilai itu memiliki kedalaman teologis dan patut diangkat, bukan disisihkan,” tegasnya.
Menurut Pdt. Gunawan, ibadah fakultas memiliki fungsi penting sebagai sarana pendidikan spiritualitas mahasiswa. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa diajak untuk menghargai tradisi, memahami konteks budaya, dan mengembangkan sikap spiritual yang terbuka dan inklusif.
“Ketika nilai budaya lokal diangkat, kita belajar menghargai perbedaan etnis, suku, dan budaya. Itu semua adalah anugerah Tuhan, bukan sumber perpecahan. Justru keragaman itu memperkaya spiritualitas kita,” ujarnya.
Selain menumbuhkan penghargaan terhadap budaya lokal, kegiatan ini juga diharapkan dapat melatih seluruh civitas akademika untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan.
“Kami ingin menanamkan nilai bahwa bersyukur itu tidak hanya ketika senang, tetapi juga ketika menghadapi kesulitan. Dengan bersyukur bersama, kita belajar menopang satu sama lain. Di situlah solidaritas dan spiritualitas itu tumbuh,” tutur Pdt. Gunawan.