Fakultas Teologi UKSW Ditunjuk sebagai Koordinator MKWN PA(K) di Tingkat Universitas

Salatiga, fteologi.uksw.edu – Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) resmi ditunjuk sebagai koordinator penyelenggaraan Mata Kuliah Wajib Negara (MKWN) Pendidikan Agama (Kristen)/PA (K)  di lingkungan universitas. Penunjukan ini menegaskan peran strategis Fakultas Teologi dalam membina spiritualitas mahasiswa lintas program studi dengan pendekatan yang kontekstual, inklusif, dan humanis.

Sebagai koordinator, Fakultas Teologi bertanggung jawab menyusun kurikulum, mengelola proses pembelajaran, dan memastikan mutu pendidikan PA(K) di UKSW. Salah satu wujud dari peran ini adalah penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) terbaru untuk mata kuliah Pendidikan Agama (Kristen) (MU117) yang mulai diterapkan pada Semester 3 Tahun Akademik 2024/2025.

Mata kuliah ini tidak diselenggarakan dengan menekankan bahasan dogmatis perihal pokok-pokok iman tertentu—dalam hal ini Kristen—melainkan fokus pada intisari nilai luhur dari iman Kristen yang juga menjadi dasar penyelenggaraan UKSW.

“Penggunaan kata ‘Kristen’ dalam nama mata kuliah ini bukanlah upaya pemaksaan untuk mengkristenkan mahasiswa yang berasal dari latar agama lain. Sebaliknya, ini adalah bentuk tanggung jawab universitas untuk memperkenalkan dan memastikan semua mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika UKSW,” tegas Pdt. Sony Kristiantoro, M.Si., selaku Koordinator MKDU Pendidikan Agama (Kristen), Minggu, 15 Juni 2025.

“Di samping itu, keberadaan mata kuliah wajib negara ini memiliki tujuan untuk mengenal dan memahami prinsip-prinsip nilai kekristenan yang dianut kampus —nilai yang non-eksklusif, luhur, dan berorientasi pada kemanusiaan, sebagaimana diteladankan oleh Yesus Kristus,” ungkapnya.

Lebih jauh, menurutnya, mata kuliah ini juga membahas berbagai isu sosial, budaya, politik, dan ekonomi dalam kaitannya dengan keberagamaan. Mengingat keragaman latar belakang agama mahasiswa di UKSW—Islam, Katolik, Kong Hu Cu, Buddha, Hindu, maupun penghayat kepercayaan—pendekatan pembelajaran pun dirancang agar akomodatif.

“Kami menerapkan dua aksi utama untuk merespons keberagaman ini. Pertama, menyelenggarakan kuliah umum setiap trimester dengan pembicara lintas agama membahas isu-isu sosial aktual. Kedua, memberi ruang bagi mahasiswa non-Kristen untuk membagikan pengetahuan dasar keagamaannya di kelas,” tambahnya.

Pendidikan Agama (Kristen) di UKSW dirancang agar para naradidik mampu memahami prinsip dasar keberagamaan dan mengaplikasikannya secara kreatif dan komunikatif, dengan kepekaan sosial serta kemampuan berpikir kritis-sistematis. Pendekatan ini juga diwujudkan dalam bentuk service learning, diskusi kelompok, presentasi interaktif, dan refleksi personal.

Dalam proses pengajaran, Fakultas Teologi melibatkan dosen-dosen kompeten, di antaranya Pdt. Prasetyawan K., M.Si., Pdt. Waluyo, M.Si., Dr. Fibry Jati Nugroho, M.Si., serta Pdt. Yuliana T.B. Tacoh, S.PAK, M.Pd, dan beberapa dosen lainnya yang berasal dari gereja-gereja yang ada di Salatiga. Kehadiran para dosen ini memperkuat posisi Fakultas Teologi sebagai motor penggerak pendidikan spiritualitas yang relevan dengan tantangan zaman.

Dengan mandat sebagai koordinator MKDU Pendidikan Agama (Kristen) di tingkat universitas, Fakultas Teologi semakin menegaskan komitmennya untuk mencetak lulusan UKSW yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial, serta siap berkontribusi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp