Dua Dosen Fakultas Teologi UKSW Ikuti ATESEA Conference for Women 2025 di Bangkok

Bangkok, fteologi.uksw.edu — Dua dosen Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Pdt. Cindy Quartyamina, M.A dan Pdt. Merry Kristina Rungkat, M.Si, turut berpartisipasi dalam ATESEA Conference for Women 2025 yang diselenggarakan oleh The Association for Theological Education in Southeast Asia (ATESEA) pada 23–24 September 2025 di YWCA Hotel, Bangkok, Thailand.

Konferensi yang mengusung tema “Recovering Women’s Voices: Scriptures, Tradition, Culture, Ministries” ini mempertemukan para akademisi dan praktisi perempuan dari berbagai negara di Asia, yang tergabung dalam jaringan ATESEA. Kegiatan ini menjadi ruang reflektif bagi perempuan untuk mengidentifikasi dan memulihkan suara mereka dalam konteks teologi, tradisi, budaya, dan pelayanan gereja di kawasan Asia Tenggara.

Dalam keterangannya, Pdt. Cindy Quartyamina, M.A menjelaskan bahwa proses penyelenggaraan konferensi dimulai dari pengumuman resmi ATESEA kepada seluruh sekolah dan fakultas teologi di bawah koordinasinya. Setiap institusi kemudian diminta untuk menunjuk perwakilan peserta yang akan menghadiri kegiatan tersebut.

“Fakultas Teologi UKSW menugaskan saya bersama Pdt. Merry Kristina Rungkat untuk menjadi delegasi dalam konferensi ini. Setelah proses pendaftaran, kami berangkat ke Bangkok dan mengikuti seluruh rangkaian acara selama dua hari,” ujar Pdt. Cindy Kamis (30/10).

Menurutnya, keterlibatan dalam konferensi tersebut memberikan pengalaman akademik dan spiritual yang sangat berharga. Para peserta memperoleh pengetahuan baru mengenai feminisme dan realitas sosial perempuan di berbagai konteks Asia, termasuk isu-isu ketidakadilan, kekerasan, dan marginalisasi yang masih sering terjadi.

“Kami mendapatkan banyak pembelajaran tentang bagaimana refleksi teologis dapat dikembangkan dari pengalaman perempuan. Selain itu, kami juga memperluas jejaring akademik lintas negara dan institusi yang berpotensi membuka kerja sama dalam penelitian, pertukaran ilmu, hingga kegiatan-kegiatan feminisme di masa depan,” tambahnya.

Selain memperkaya wawasan, kegiatan ini juga memperkenalkan beragam metode ibadah dan refleksi teologis yang terhubung dengan perspektif feminis. Pdt. Cindy menilai bahwa pendekatan semacam ini memperdalam pemahaman akan hubungan antara iman, tubuh, budaya, dan pengalaman perempuan dalam konteks pelayanan.

Tujuan utama keikutsertaan dosen Fakultas Teologi UKSW dalam kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi isu-isu sosial yang berkaitan dengan kehidupan perempuan serta menggali respon teologis dari perspektif perempuan Asia. Hasil pembelajaran dari konferensi ini diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan teologi, studi gender, dan mata kuliah terkait lainnya.

“Kami berharap ada tindak lanjut berupa kesempatan untuk membagikan dan menginternalisasikan gagasan-gagasan baru yang kami dapat kepada mahasiswa. Pengetahuan teologis ini penting untuk memperkaya perspektif mereka dalam melihat realitas perempuan dalam konteks gereja maupun masyarakat,” tutur alumni Fakultas Teologi tersebut.

Sejalan dengan Pendeta Cindy, Pendeta Merry berharap pasca mengikuti program tersebut, dirinya mampu menjadi agen perubahan khususnya dalam memperjuangkan keadilan untuk perempuan.

“Sebagai civitas akademisi Fakultas Teologi, pasca mengikuti kegiatan ini harapannya ini menjadi awal untuk menciptakan ruang aman bagi keadilan gender. Secara khsusus untuk memperjuangkan suara perempuan yang rentan dan menerima ketidakadilan,” harap dosen yang akrab dipanggil Merry tersebut. Keikutsertaan Pdt. Cindy dan Pdt. Merry dalam ATESEA Conference for Women 2025 menjadi bagian dari komitmen Fakultas Teologi UKSW untuk terus mendorong pendidikan teologi yang inklusif, kontekstual, dan berkeadilan gender. Melalui kegiatan semacam ini, fakultas berupaya memperluas jejaring internasional sekaligus memperteguh peran UKSW dalam percakapan teologi global yang relevan

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp